Impulsif

Hai! Been a looong time ya, blogsky.

Akhir-akhir ini nci merasa dunia kok ya makin aneh? It feels strange and successfully influence me in a very weird manner.

It took me only five hours to decide (my) future! I still dont know whats gotten into me that time, starting from choosing the institution (i didnt have many choices, actually. disaster bender is still my dream but the Disaster Agency didnt open any vacation so yeah)

It was so impulsive of me. Yah, the exact (only) reason sih my (future) master degree.

Ujung-ujungnya banyak yang mempertanyakan soal kepindahan daku, baik dari sisi teman lama maupun teman baru. Ya wajar sik, udah gitu jawabannya “cuma” karena pengen sekolah, katanya. Tapi buat nci sekolah bukan “cuma” so i gave it a heavy 0.9 portion of thought when i decided to send my application.

Jadi yaudade, saat menggebu-gebu ingin sekolah dan mencari alasan beasiswa akhirnya ku apply yang bisa nerima dan rada nyambung. Eh taunya rejeki…….semoga rejeki juga ya buat memperlancar pesekolahan nci nanti.

Sekarang lagi fasenya culture shock HAHAHA. Seriusan sih, coming from an almost homogeneous environment, i realized my past failure. Seberagam-ragamnya temen dari TK sampe kuliah, nci ngga pernah ketemu sama yang sebanyak ini perbedaannya dan hey, itu artinya friendship circleku selama ini sangat kecil&betapa kupernya diri ini. It feels nice, kenalan sama banyak orang dengan beragam pemikiran.

Sepertinya keberagaman ini merupakan part dari pembelajaran kehidupan yang sudah seharusnya makin berpikir dewasa, at least sesuai umur (gitu si katanya). Kemarin habis ada sesi nasihat part kesekian, katanya sudah umurnya nci harus berpikir lebih bijak. Siap, bismillah!

FO

Kejadiannya mirip dengan Pembangunan Flyover.

Tujuan utamanya mengurangi kemacetan. Iya kok, bener.

Tapi secara tidak langsung, hal tersebut mengencourage banyak orang untuk tetap berkendaraan pribadi. Toh, memang sudah difasilitasi, kan, untuk menghindari macet dibawah flyover. Bukan efek jangka pendek sih, multiplier effect model gini mungkin emang akan cuma kelihatan pengaruhnya kalo time spannya diperpanjang jadi, katakanlah 20 tahun misalnya.

Bukan salah Flyovernya kok. Flyovernya mah bener, wong memang tujuannya mengatasi kemacetan sebidang sudah tercapai. Yang salah tetap mindset penggunanya yang nggak (belum) mau berubah dan (masih) kurang (banyaknya) opsi transportasi publik dari pemerintah (yang nyaman).

Yah semoga kerja3x dan kerja3x yang dijalankan pemerintah ini akan terus berlanjut dan berefek jangka panjang yang lebih baik ya, siapapun kepalanya. Kalo resources&reserves bisa di-make it generously big but logic-in, semoga infrastruktur publik bisa di-make it wisely useful & accessible-in yah. -KAGAK NYAMBUNG OY HAHA-