lah

kenapa setelah berpindah malah jadi memiliki perasaan takut untuk menulis tentang sesuatu yang mengganggu pikiran ya? kok malah jadi merasa terbelenggu karena takut tidak semua orang bisa menerima perbedaan (yang mungkin akan membawa perubahan?) dan takut karena tidak mengetahui norma mana yang normal dilakukan dan hal mana yang merupakan pelanggaran. dan meskipun pada akhirnya setelah mengetahui peraturan dan kesimpulannya daku tidak salah, kenapa daku menjadi takut bahwa orang lain tetap tidak bisa menerima itu karena kritikan dan kemauan untuk berubah itu tetap tidak disukai?

apa yang seperti ini namanya perasaan bersalah karena sudah mulai merasa menjadi bagian dari sesuatu dan merasa jahat kalau menjadi pengkritik utama sesuatu itu? apa karena takut dibilang tidak solid dan intoleran? apakah memang harus mentolelir sesuatu yang kita tau salah tetapi justifikasinya sudah diterima semua orang yang lain? haruskah mengadjust standar agar menjadi sama dengan orang lain?

big fat no, i seriously hate that kind of idea. i do own my mind, i do have my standard of what’s good and bad. ya walau harus selalu diingat, nci sering banget salah. jadi another second voices and point of view adalah sebuah keharusan. Seseorang pernah menasihatiku bahwa, untuk menjadi orang yang keputusan-keputusannya fungsional, tempatkanlah dirimu disepatu dan lihatlah dengan cara pandang orang lain.

yea right i know i’m only a mere soul whose opinion wont make an impactful change, heck, it wont affect even a tiny lil pieces of universe bite so why should i feel afraid?

nci ngga suka yang model-model begini nih. sebagai bagian free spirit oh jiwa-jiwa yang bertebangan di muka bumi, hal yang kayak gini super duper nggak baik buat kesehatan.

should i migrate my own mind somewhere else, being an anon spirit…….or simply give no fc and let it be whatever that can go wrong (&right too, ofc)?

lah?

lah!

nope, in the end of the day, this clouded, too humanistic mind is mine and mine only &i’m the captain of my mind. I should only voices my own opinion, because, yea, kalau orang lain juga mau keputusannya fungsional, ada baiknya juga menempatkan dirinya dalam sepatuku, kan?

lah.