bagi-bagi hasil sih katanya

dengan menjunjung tinggi netralitas netizen awam (enggadeng haha sebenernya udah terlanjur sefrekuensi duluan sama logical reasoning yang emang terlalu logic dilontarkan oleh pa tp wakakak), nci masih sangat mempertanyakan ampe kapan si grosssplit (gp) ini dipertahanin?

yo as u can see i might be coming off as someone who’s strongly disagree with the concept (ok, i do! hahaha). but anyone even with little forecast/risk-based management knowledge (like me hoho) will eventually ask the government about their too optimistic view of the exploration future. mo dikemanain 1 barel diambil, 1  barel ditemuin? call me pessimistic or anything, i’ll just be realistic here, who in the world (of business or even on daily basis) would waste money for something of high risk with no favorable return?

kan konsepnya bagi hasil yak ceritanya, tapi kok w nangkepnya kayak nggak mau bagi resiko, jaat 😦 kalo pake psc, setidaknya ada iming-iming menarique bagi para investor yaitu cost-recovery. tapi kalo purely pake grosssplit, yo mo pake sapi wagyu pas doa bersama sebelom drilling atau menekan biaya ampe mampus dengan gapake logging macem-macem juga, semuanya udah terserah si kkks. kesannya negara nggak lagi terlalu ngeregulate operasional yah udeh kayak kontrak normal aja, sing penting ntar kalo udah ada hasilnya dibagi ke negara&bayar pajak. horeee!

ya kalo u perusahaan normal udah pasti jadi males eksplorasi lah. dikira nyari minyak tinggal nyoblos dapet mana nyuruhnya nyari di timur lagi. yasalam, boleh sih ingin memperkaya negara, nyari pnbp, tapi bukannya kalo namanya kebijakan lebih baik bijak ya? it should be sustainable, minimalizing current&future risk dan mengakomodir segala arah (ya walopun gakan semua orang bahagia si) tapi palingga menggiurkan buat yang punya duit biar mau nanem duitnya disini. namanya juga nyari pemodal, pastinya konsultasi dulu lah ya sama bkpm. ntar ujung-ujungnya ngga banyak yg tertarik ambil wk baru (palagi eksplorasi) ya sepet juga si gw kalo sampe diujung akhirnya maksa-maksi cantiknya ke bumn lagi buat bikin kontrak grosssplit.

ini baru dari sisi eksplorasi, belom yang lain-lain. concern terbesar selanjutnya tkdn sih. apalagi infrastruktur migas butuh banyak teknologi&bahan baku dari luar. kalo psc kan dipaksa %an dalam negerinya, lah kalo pake gp kayanya ngga diatur2 amat kan swadaya ye gak (asik bahasa nci udah swadaya aja🤣) ntar yodah impor aja mulu, wong lebi murah diluar. belom banyak yg operasi pake gp aja neraca perdagangan 2018 udah negatif begitu (dan salah satu sektor penyumbang besar ya migas zzz, ya ok sih ini bukan sebab akibat langsung tapi frame-nya harus diperluas buat liat keterkaitannya dan ini future risk) gimana ntar kalo udeh banyak yg operational bahahahaha ampe eneg BI bikin monetary policy& bu ani with her fiscal policy, e yang ini mala nyusahin. bisa jadi efek domino, ditambah juga dengan kebanyakannya psn (yg nci bingung strategisnya dimana? urgensinya dimana ya?) dengan fiscal policy yg akhirnya harus anaktiriin pajak imported goods buat bahan baku ekspor. cekek aje dah itu manufacture&productive value added industry, kecian kecian, cup cup.

ok, yodah gt aja mo nggeremengnya hahaha bikin keheul yah kamu nci tukang ngritik. sebenernya masih banyak sisi negatif yg bikin gatel pessimistic person kayak nci, gandeng yah kamu nci. ngga solutif bisanya ngritik doang. but just my two cent, balik lagi ke psc will likely be, if not the best, a better option lho, mr. jo.

Oh, an Outlier?

Kalau dihitung, udah mau setahun (11 bulan sih, lebih 3 kuartal lumayan lah ya) nci belajar hal baru. Ya seru, ya asik, ya ngebingungin, ya pusing, ya yaudah diikutin aja.

“Telen aja dulu”

“ini pelajaran kuliah 4th, ya wajar kalo susah'”

“Gue juga udah lupa, ci. Udah lama nggak kuliah”

& “pelan-pelan, santai aja ci” selalu jadi kata-kata penyenang (penyemangat?) dari semua orang di sekitar. Hampir semua orang adalah orang sipil jelas membuat perbedaan (amat) besar. Lucunya ternyata bukan menjadi bagian dari kebanyakan membuat keinginan untuk berlari semakin besar (ya walaupun belum ada jiwa kompetitif sih>.< paling enggak kompetitif sama diri sendiri dulu ajalah ya).

‘I’m new around here, and very lost’ is kinda lame excuse, actually. An insignificant justification that i know my future self will never really like the idea. Just enjoy the process (gitu kata orang-orang), and yeah, yaudah gitu aja. Never knew that being an outlier could be this…..fun?

In the end of the day, everyone’s having their own outlier way of mind so nobody’s truly an outlier.

 

lah

kenapa setelah berpindah malah jadi memiliki perasaan takut untuk menulis tentang sesuatu yang mengganggu pikiran ya? kok malah jadi merasa terbelenggu karena takut tidak semua orang bisa menerima perbedaan (yang mungkin akan membawa perubahan?) dan takut karena tidak mengetahui norma mana yang normal dilakukan dan hal mana yang merupakan pelanggaran. dan meskipun pada akhirnya setelah mengetahui peraturan dan kesimpulannya daku tidak salah, kenapa daku menjadi takut bahwa orang lain tetap tidak bisa menerima itu karena kritikan dan kemauan untuk berubah itu tetap tidak disukai?

apa yang seperti ini namanya perasaan bersalah karena sudah mulai merasa menjadi bagian dari sesuatu dan merasa jahat kalau menjadi pengkritik utama sesuatu itu? apa karena takut dibilang tidak solid dan intoleran? apakah memang harus mentolelir sesuatu yang kita tau salah tetapi justifikasinya sudah diterima semua orang yang lain? haruskah mengadjust standar agar menjadi sama dengan orang lain?

big fat no, i seriously hate that kind of idea. i do own my mind, i do have my standard of what’s good and bad. ya walau harus selalu diingat, nci sering banget salah. jadi another second voices and point of view adalah sebuah keharusan. Seseorang pernah menasihatiku bahwa, untuk menjadi orang yang keputusan-keputusannya fungsional, tempatkanlah dirimu disepatu dan lihatlah dengan cara pandang orang lain.

yea right i know i’m only a mere soul whose opinion wont make an impactful change, heck, it wont affect even a tiny lil pieces of universe bite so why should i feel afraid?

nci ngga suka yang model-model begini nih. sebagai bagian free spirit oh jiwa-jiwa yang bertebangan di muka bumi, hal yang kayak gini super duper nggak baik buat kesehatan.

should i migrate my own mind somewhere else, being an anon spirit…….or simply give no fc and let it be whatever that can go wrong (&right too, ofc)?

lah?

lah!

nope, in the end of the day, this clouded, too humanistic mind is mine and mine only &i’m the captain of my mind. I should only voices my own opinion, because, yea, kalau orang lain juga mau keputusannya fungsional, ada baiknya juga menempatkan dirinya dalam sepatuku, kan?

lah.

Menerowong&Menerawang

Sebagai awam yang suka penasaran (dan kebetulan banyak PR 🤣)  nci jadi penasaran waktu kepo soal Trans Sumatra. Katanya (rencananya, gosipnya, menurut kabar burung) bakalan ada section yang membelah Bukit Barisan. Wuuush!

Dari sekian banyak tempat, Bukit Barisan yang mau dibelah. Kan menariq. Kalo ngga salah inget (biasanya salah sih 😆), Bukit Barisan amat sangat erat banget sekali dengan Sumatra Fault System, atau bahasa gaulnya Sesar Semangko.

That one’s strongly interesting place to choose. The Sumatran Fault belongs to a class of trench-parallel strike-slip fault system that work in concert with subduction zones to accomodate obliquely convergent plate motion (Yeats, et al., 1997), which means, it is an active source of seismically ground motion (ha-zard). Perlu diinget sih, HAZARD, bahaya ya guys bukan bencana. It needs to be strictly underlined that, not every frickin hazard’s gonna be some kind of uncanny disaster. Us human need to do some preventive mitigation when planning and making the detail engineering design.

Kalau section terowongannya sepanjang hampir 9km, penempatan exit&entrance harus benar-benar memerhatikan strike dari sistem sesar, mau si main sesar maupun anakannya. Terus juga sepertinya penggunaan circular lining serta deformasi yang diperbolehkan harus diperbesar range-nya. Dan juga planning escape route&evacuation, fire system, drainage system…dan banyak lainnya. Intinya perencanaan harus matang dan dalam perencanaan harus sangat mempertimbangkan proses preservasi nantinya.

Oke, sebenernya ini menerawang banget udah mirip cenayang. Just my 7cents, jadi doanya semoga kalau benar jadi dibuat penerowongan ini, faktor HSE harus jadi nomer 1. 👷

Cita+Cita

Berhubung Indonesiaku ini dikelingi oleh banyak gunung api dan tektoniknya aktif banget, yha nggak jauh-jauhlah cita+citaku.

Geological Disaster Forecast.

(And systematically including Climate Change effect, ofc)

Yha semacam percenayangan, namun yang memberi makna dan bisa dipertanggungjawabkan secara saintifiq. Kalau dari manajemen, kan, mencegah lebih baik yha daripada mengobati.

Cukup banyak bahaya geologi yang menjadi bencana karena kurang edukasi. Kurang peduli, itusih yang parah.

Mau terima kasih dulu sama @BNPB yang udah berusaha untuk meningkatkan awareness kita.

Duh, sebenernya sudah banyaq contoh berubahnya bahaya menjadi bencana dikarenakan improper human activity. Duh. Sedi nci tuh.

Katanya, kalo manusianya udah susah  dibilanginnya, ya paling ngga, sebagai sebagian yang belajar, walopun ilmunya kurang banyak, bisa bantu dikit.

Biar ilmunya, yang udah sedikit itu, nggak nguap jadi debu angkasa. Hahahahaha.

Landslide early detection & integrated landslide hazard map (1:5000) kayaknya menariq 🤠

Impulsif

Hai! Been a looong time ya, blogsky.

Akhir-akhir ini nci merasa dunia kok ya makin aneh? It feels strange and successfully influence me in a very weird manner.

It took me only five hours to decide (my) future! I still dont know whats gotten into me that time, starting from choosing the institution (i didnt have many choices, actually. disaster bender is still my dream but the Disaster Agency didnt open any vacation so yeah)

It was so impulsive of me. Yah, the exact (only) reason sih my (future) master degree.

Ujung-ujungnya banyak yang mempertanyakan soal kepindahan daku, baik dari sisi teman lama maupun teman baru. Ya wajar sik, udah gitu jawabannya “cuma” karena pengen sekolah, katanya. Tapi buat nci sekolah bukan “cuma” so i gave it a heavy 0.9 portion of thought when i decided to send my application.

Jadi yaudade, saat menggebu-gebu ingin sekolah dan mencari alasan beasiswa akhirnya ku apply yang bisa nerima dan rada nyambung. Eh taunya rejeki…….semoga rejeki juga ya buat memperlancar pesekolahan nci nanti.

Sekarang lagi fasenya culture shock HAHAHA. Seriusan sih, coming from an almost homogeneous environment, i realized my past failure. Seberagam-ragamnya temen dari TK sampe kuliah, nci ngga pernah ketemu sama yang sebanyak ini perbedaannya dan hey, itu artinya friendship circleku selama ini sangat kecil&betapa kupernya diri ini. It feels nice, kenalan sama banyak orang dengan beragam pemikiran.

Sepertinya keberagaman ini merupakan part dari pembelajaran kehidupan yang sudah seharusnya makin berpikir dewasa, at least sesuai umur (gitu si katanya). Kemarin habis ada sesi nasihat part kesekian, katanya sudah umurnya nci harus berpikir lebih bijak. Siap, bismillah!

FO

Kejadiannya mirip dengan Pembangunan Flyover.

Tujuan utamanya mengurangi kemacetan. Iya kok, bener.

Tapi secara tidak langsung, hal tersebut mengencourage banyak orang untuk tetap berkendaraan pribadi. Toh, memang sudah difasilitasi, kan, untuk menghindari macet dibawah flyover. Bukan efek jangka pendek sih, multiplier effect model gini mungkin emang akan cuma kelihatan pengaruhnya kalo time spannya diperpanjang jadi, katakanlah 20 tahun misalnya.

Bukan salah Flyovernya kok. Flyovernya mah bener, wong memang tujuannya mengatasi kemacetan sebidang sudah tercapai. Yang salah tetap mindset penggunanya yang nggak (belum) mau berubah dan (masih) kurang (banyaknya) opsi transportasi publik dari pemerintah (yang nyaman).

Yah semoga kerja3x dan kerja3x yang dijalankan pemerintah ini akan terus berlanjut dan berefek jangka panjang yang lebih baik ya, siapapun kepalanya. Kalo resources&reserves bisa di-make it generously big but logic-in, semoga infrastruktur publik bisa di-make it wisely useful & accessible-in yah. -KAGAK NYAMBUNG OY HAHA-